Hingga Maut Memisahkan

25 May

Ada satu hal yang sangat saya sadari hari ini, bahwa betapa orang terkagum-kagum dengan kisah cinta hampir 5 dekade antara bapak BJ Habibie dan bu Ainun Habibie. Betapa mengharukannya melihat kesetiaan bapak Habibie yang berjanji setia untuk selalu menemani ibu Ainun hingga ke tempat peristirahatan terakhir.

Sudah pasti, Pak Habibie dan Ibu Ainun sudah melewati rintangan dan pasang-surut dalam hubungan mereka. Mengalahkan terpaan-terpaan yang pada akhirnya memperkuat cinta mereka. Apalagi dalam satu  wawancara mereka mengatakan bahwa kisah cinta mereka mirip dengan kisah cinta Fitri dan Farrel di sinetron “Cinta Fitri”. Continue reading

Syariat Islam Bukan Sekedar Masalah Busana dan Urusan Syahwat

23 May

Momen bahwa syariat Islam mulai diterapkan di Aceh ialah ketika saya duduk kelas 2 SMP dan kami semua mulai diperintahkan untuk mengganti celana pendek dengan celana panjang dan para siswi mulai diharuskan memakai kerudung dan memakai rok panjang. Itu terjadi lebih dari satu dekade yang lalu.

Selama lebih dari satu dekade ini pula berbagai qanun-qanun peraturan yang berkaitan tentang penerapan syariat Islam diterapkan. Peraturannya mulai dari wanita berbusana muslim, hukuman cambuk untuk orang yang berkhalwat, hingga yang teranyar itu terjadi di daerah saya yaitu pelarangan untuk bercelana panjang dan ketat bagi wanita.

Selama lebih dari satu dekade ini, satu hal yang saya perhatikan bahwa qanun-qanun yang dikeluarkan tidak lebih dari aturan-aturan yang ujungnya mengurusi masalah yang berhubungan dengan syahwat. Sehingga timbul tanya, apakah syariat Islam itu lingkupnya ngurusin itu saja? Continue reading

Monster Bernama UN

5 May

Bagi siswa SMA saat ini, mungkin tidak ada yang lebih mengerikan daripada satu hal yang dilabeli dengan Ujian Nasional. Murid terpintar hingga murid paling brengsek pun bakal ketar-ketir menghadapi ini. Usaha menuntut ilmu selama 3 tahun ditentukan di beberapa hari ujian. Layaknya bermain video game Mario Bros, UN ialah si Monster Naga yang harus ditaklukan segera untuk sukses menyelamatkan sang putri. Maka UN, ialah “monster” yang perlu ditundukkan demi sukses menyelamatkan harga diri dan masa depan.

Teringat saya tahun 2004 dulu, ketika posisi saya sama dengan adek-adek saya saat ini. Bersenjatakan pensil 2B Faber Castle, Continue reading

Ketika Jupe Mau Jadi Bupati

6 Apr

Gak ada angin, gak ada hujan. Tiba-tiba, artis seksi Julia Perez dipinang oleh 8 partai untuk menjadi bakal calon bupati Pacitan. Entah apa pertimbangan utama ketika partai-partai ini menyodorkan Julia Perez sebagai pemimpin di daerah yang Jupe sendiri akui ia tidak tahu itu dimana. ^^

Yah kalo yang unik-unik gini sudah pasti bakal menimbulkan pro kontra. Yang kontra tentu bersuara keras mempertanyakan kredibilitas seorang Jupe yang selama dikenal dengan aksi seksinya untuk maju sebagai bupati. Sudah cukup pantas kah?  Ramai yang menertawakan dan mencemooh. Continue reading

Happy

13 Jan

Ada satu cerita di negeri antah berantah,

seorang pangeran dengan kuda putihnya mendatangi istana putri impiannya.

Ia datang untuk meminang sang putri.

Ternyata putri impiannya menolak lamarannya.

Dan Pangeran berkuda putih kembali ke negerinya dan (tetap) hidup bahagia hingga akhir hayat.

Kebahagiaan tidak diukur dari apakah kita mendapatkan semua yang kita inginkan. Kebahagian itu pada bagaimana kita memaknai kebahagian itu sendiri. Continue reading

Perihal Nunggu 5 Detik

11 Jan

Sejak tahun lalu seingat saya, lampu lalu lintas di kota saya ini sudah ditandemin dengan LED Countdown timer yang menampilkan hitungan mundur selama menunggu dari lampu merah ke lampu hijau. Model lampu lalu lintas yang pertama kali saya lihat saat liburan ke Riau beberapa tahun lalu kini ada disini. Keberadaannya sendiri sih antara bermanfaat atau tidak bermanfaat sih menurut saya. Manfaatnya sendiri sih untuk patokan lama kita berdiam di lampu merah. Kadangkali kalo ada anak-anak yang berbarengan berhenti ma saya, mereka suka pada teriak-teriak ngitung mundur kayak orang rayain tahun baru. Seakan-akan ketika LEDnya menyentuh bilangan 1, bakal ada kembang api megah meluncur ke udara 😀 Continue reading

Nyali

9 Jan

Tuhan beri aku nyali, untuk mengucapkan janji

Sehidup semati

Aku tak ingin lagi
Buatnya menunggu untuk
sesuatu yang tak pasti

“Kapan Nikah???”

photo: africanlovebirdsociety.com

Ahai, seiring dengan penambahan umur yang semakin mengindikasikanbahwa saya semakin tua, pertanyaan yang satu itu makin sering dilontarkan oleh orang-orang.  Apabila lagi acara kumpul-kumpul keluarga, kemudian salah satu sanak famili mengajukan pertanyaan itu, maka saya hanya bisa senyam-senyom dan pura-pura ke belakang ambil minuman. Hahaha, manuver untuk melarikan diri dari pertanyaan yang biasanya bakal dibahas panjang oleh satu isi ruangan. Continue reading

Selagi Masih Ada Kesempatan…

7 Jan

Tadi malam saya membaca satu tweet dari twitternya Pandji Pragiwaksono. Tweetnya berbunyi seperti ini:

“What I fear most is the ones I love died before them knowing just how much I really-really love them”

Seerr, membacanya membuat saya begidik. Mengingatkan kembali kepada almarhum papa yang lebih duluan meninggalkan kami. Saya dan papa, hubungannya biasa saja. Tidak seperti abang saya yang benar-benar dekat kepadanya. Saya ini lebih banyak bengalnya. Jiwa rebelnya paling kentara. Paling malas diatur-atur. Yah namanya anak-anaknya. Tapi sebagaimanapun sikap saya, papa ialah orang yang paling tabah menghadapi saya dan kami semua. Papa sangat jarang marah, malah hampir tidak pernah. Kalau rebutan acara tivi, beliau lebih sering mengalahnya. Satu yang paling saya ingat dari papa ialah jika kami semua sedang tiduran2 sambil nonton tivi, tangannya selalu mengelus kepala saya -tanda betapa sayang ia kepada kami- bahkan hingga hari-hari terakhirnya pun kebiasaannya mengelus kepala saya tidak pernah hilang.

Saat-saat terakhir kebersamaanya saya dengannya ialah malam sebelum ia meninggal. Saat itu ia sedang menunggu jemputan temannya di teras. Saya saat itu sedang mau keluar untuk nongkrong. Obrolan kami saat itu singkat saja, basa-basi pendek. Saya puntidak ingat apa obrolan kami saat itu. Tidak ada tanda, tidak ada isyarat esok paginya papa masuk rumah sakit dan beberapa jam kemudian ia di panggil oleh Allah Yang Maha Kuasa.

Hal yang pertama saya rasakan saat itu ialah rasa sesal. Sesal karena saya belum bisa sepenuhnya menunjukkan bakti saya kepadanya. Sesal karena ia belum bisa melihat saya menikah dan melihat calon cucu-cucunya di masa depan. Sesal karena saya tidak pernah sempat menunjukkan betapa saya begitu sayang kepadanya.

Yah, penyesalan karena orang yang kita sayangi itu tidak tahu betapa kita mencintainya. Itu yang begitu saya sesalkan. Seharusnya itu hal yang sangat mudah. Tapi saya malah enggan menyampaikan. Urusan malulah, inilah, itulah.

Dan mungkin banyak di antara teman-teman yang begitu juga. Kita belum sempat untuk menyatakan cinta pada orang tua kita. Yang punya andil besar dalam hidup kita. Kita malah lebih jor-joran menunjukan cinta kita pada pacar kita yang belum tentu jelas bakal dinikahi. Kita lebih sibuk ngurusin pacar ketimbang ngurusin orang tua. Bela-belain ke rumah pacar hujan-hujan, anterin kesana kemari. Tapi giliran orang tua yang minta ngelesnya bnyak banget. Nurutin dan pertahankan kesabaran tingkat tinggi ketika menghadapi amarah pacar, api kita kadang lupa untuk seperti kepada orang tuan. Merasa malu jika masih ditanya-tanyain kabar oleh orang tua. Merasa gak suka jika orang tua kita banyak ikut campur, larang ini itu. Padahal itu tanda sayangnya kepada kita.

Yang mau saya sampaikan ialah bagi yang masih punya orang tua lengkap. Selagi masih ada kesempatan, tunjukkanlah rasa cinta kalian. Bahagiakanlah ia. Membahagiakannya tidak  sekedar untuk urusan materi, kasih kado, beliin barang gitu. Membahagiakannya juga lewat perlakuan kita, senyuman, kasih sayang yang berlimpah kepadanya.

Saya telah hilang satu kesempatan. Yang saya bisa lakukan sekarang ialah berusaha menjadi anak yang beriman supaya setiap doa saya kepadanya dapat melapangkannya. Karena itu yang masih bisa saya lakukan. dan Saya masih punya mama, yang begitu menyayangi kami setiap hari. Yang begitu kasihnya tanpa batas kepada kami. Dan saya masih punya kesempatan untuk mengatakan terima kasih dan betapa saya mencintai.

Katakanlah… selagi masih ada kesempatan. Tunjukkanlah cintamu pada mereka… selagi masih ada kesempatan. Kita tidak  pernah tahu kapan waktu itu tiba. Maka lakukanlah selagi bisa.

**dedicated to my late. Dad…. I love you so much. And my mom, I love you the same 🙂

Huang Chuncai

5 Jan

photo: National Geographic

Minggu kemaren ketika akan berangkat kuliah pagi, saya memutar bentar tivi di rumah. Pencet-pencet remote berhenti di Bio Channel. Channel ini sedang memutar satu dokumenter berjudul “I Am The Elephant Man”, tayangan yang sudah saya tunggu-tunggu dari kemaren. Maka dengan tekad bulat saya memutuskan untuk bolos kuliah hari ini **adek-adek jangan ditiru yah**

Lalu acara apakah ini yang membuat saya bela-belain bolos kuliah? “I Am The Elephant Man” ialah dokumenter besutan Bodyshock yang ditayangkan pertama kali oleh National Geographic. Fokus utama dokumenter ini ialah pria kelahiran 1977 asal Provinsi Hunan, China. Sejak umur 4 tahun, Huang sudah divonis mengidap neurofibromatosis,  sebuah kelainan warisan di mana jaringan saraf tumor (neurofibromas) terbentuk di kulit, lapisan bawah kulit (subkutan jaringan), dan saraf dari otak (saraf kranial) dan sumsum tulang belakang (detikhealth.com).  Pada Huang, efek dari tumor itu ialah tumor itu  tumbuh tanpa terkendali di  wajahnya. Beratnya sendiri ampe berkilo-kilo. Orang tua Huang yang penghasilannya dari menjual mie di pasar tidak sanggup memberi penanganan lebih pantas untuk Huang, hingga tumor itu pun dibiarkan saja. Huang pun harus menanggung beban tumor di wajahnya yang semakin berat. Pada usia 30an. berat tumor di wajahnya sudah mencapai berat 15 kilo!

Huang dan Prof. Xu yang menanganinya (photo: National Geographic)

Lalu pada tahun 2007, rumah sakit asal Guangzhou, Fuda Cancer Hospital menawarkan penyembuhan untuk tumor Huang. Maka dilakukanlah pengangkutan tumor di wajah Huang. Para dokter mengeluarkannya lewat beberapa sisi wajah. Berkilo-kilo tumor berhasil dikeluarkan dalam beberapa sesi operasi. Huang tidak berharap muluk-muluk. Ia tahu wajahnya tidak akan bisa kembali sempurna. Yang dia harapkan cuma keberlangsungan hidupnya dan kesehatanya. Keinginan terbesarnya ialah agak dapat sembuh, bekerja, dan membalas budi kedua orangtua dan keluarganya yang telah merawatnya tanpa lelah.

“Jika Saya Sembuh. Saya akan menjadi anak yang sangat berbakti dan membalas semua yang telah dilakukan oleh orangtua saya.” – Huang Chuncai

Jalan menuju kesembuhan Huang memang masih panjang. Dokter mengkhawatikan tentang posisi tumor yang bisa membahayakan otaknya. Selain itu, kemungkinan hilangnya darah dalam jumlah besar saat operasi juga dikhawatirkan.

Menonton “I Am The Elephant Man” membuat sesak dada saya. Ini jauh lebih menyentuh ketimbang menonton film-film hollywood manapun. Ini realita. Lumayan haru saya melihat perjuangan Huang yang bahkan menyerah untuk melawan penyakitnya ini. Menonton ini mengingatkan saya pada satu teman saya yang tidak berani keluar rumah hanya karena wajahnya dipenuhi oleh jerawat. Mengingatkan juga kepada saya yang pernah salah potong rambut dan itu cukup membuat saya tidak berani keluar rumah. Saya yang bahkan tidak nyaman hanya karena merasa sepatu yang  dipakai tidak cocok dengan baju saya. Maka lihatlah orang ini, Huang Chuncai. Lihatlah dirinya, lihatlah apa yang dihadapinya. Yang saya lewati mungkin tidak ada apa-apanya dengannya. Bersyukur bahwa saya (dan kita) masih lebih beruntung dari banyak orang di bumi ini. Kita masih jauh lebih baik. Dan bahkan dengan begitu besarnya kebaikan yang kita punya, kita masih sering tidak tahu bersyukur dan berterima kasih. Kita malah masih berani-beraninya merasa hidup kita ini buruk. Masih merasa belum sempurna. Yah. kita memang manusia yang tidak tahu malu, tidak tahu bersyukur.

Maka nikmat TUHAN yang manakah yang engkau dustakan??

Huang Chuncai membuka mata saya. Semua yang terjadi ini adalah rahmat yang patut disyukuri. Andaikata mata hati kita dapat melihatnya dengan baik. Maka kita tidak perlu banyak mengeluh di hidup ini. Cobaan itu rahmat. Agar menguatkan kita. Menjadikan kita manusia yang lebih baik.

Wortel, Telur dan Kopi

5 Jan

**tulisan ini ditulis oleh Baharuddin Laspan, kreator dari La Tahzan grup di Facebook**

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.

Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.

Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?””Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.

Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”

Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.

“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”

“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?.”

“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”

“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”

“Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatupun yang mampu menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri”